Eksposisi Amsal 3:5-6
Lanjutan eksposisi Amsal 3:3-4
KJV
3:5 Trust in the LORD with all thine heart; and lean not unto thine own understanding.
3:5 בְּטַ֣ח אֶל־יְ֭הוָה בְּכָל־לִבֶּ֑ךָ וְאֶל־בִּֽ֝ינָתְךָ֗ אַל־תִּשָּׁעֵֽן׃
Terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia
3:5 Percayalah kepada TUHANdengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
Terjemahan Penulis
3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan seluruh manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, dan hatimu, dan kepada pengetahuanmu janganlah pernah akan kamu tersandar.
Kata “percayalah” diterjemahkan dari kata בְּטַ֣ח “betakh” yang merupakan kata kerja qal imperatif maskulin tunggal dari akar kata בָּטח “batakh”artinya “percaya” dalam penggunaannya juga sebagai “harapan, benar, untuk mencari perlindungan atau merasa aman”. Karena merupakan kata kerja imperatif maka בְּטַ֣ח artinya “percayalah”.
“kepada TUHAN” diterjemahkan dari אֶל־יְ֭הוָה “el-YAHWEH. אֶל־ “el” artinya “ke, menuju, kepada dan lain-lain”. יְ֭הוָה adalah YHWH.
Jadi בְּטַ֣ח אֶל־יְ֭הוָה “betakh el-YAHWEH” artinya adalah “percayalah kepada YAHWEH”. Di dalam KJV maupun terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia “YAHWEH” selalu diterjemahkan sebagai “LORD” atau “TUHAN” dengan huruf kapital.
Frasa “dengan segenap hati’ diterjemahkan dari בְּכָל־לִבֶּ֑ךָ “bekal-libbeka”
Kata בְּכָל “bekal” terdiri dari kata dengan בְּ “be” artinya “di, didalam, pada, dengan, oleh”. Sedangkan כָל “kal” merupakan kata benda maskulin tunggal dari akar kata כֹּל “kol” artinya “segenap seluruh, semua, keseluruhan, ssetiap”. Maka בְּכָל “bekal” berarti “dengan seluruh”
Kata לִבֶּ֑ךָ “libbeka” sampai disini telah diulang sebayak tiga kali. Kata “libbeka” merupakan kata benda maskulin tunggal dengan kata ganti orang kedua tunggal berasal dari akar kata לֵב “leb” yang artinya “manusia batiniah, pikiran, kemauan, hati”. Ini berarti kata לִבֶּ֑ךָ “libbeka” artinya “manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, hatimu”.
Jadi בְּכָל־לִבֶּ֑ךָ “bekal-libbeka” artinya “dengan seluruh manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, dan hatimu”.
Frasa “dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” di terjemahkan dari וְאֶל־בִּֽ֝ינָתְךָ֗ אַל־תִּשָּׁעֵֽן “we’el-binateka al-tissaen”
וְאֶל “we’el”adalah pasangan kata penghubung וְ “we” “dan, tetapi, selanjutnya, dan lain-lain” dengan kata depan אֶל “el” “ke, kepada, menuju”. Jadi וְאֶל “we’el” artinya “dan kepada”
Kata בִּֽ֝ינָתְךָ֗ “binateka” merupakan kata benda feminim tunggal dengan kata ganti orang kedua maskulin tunggal dari akar kata בִּינָה “binah” artinya “pemahaman, pengetahuan”. Jadi בִּֽ֝ינָתְךָ֗ “binateka” artinya “pemahamanmu” atau “pengetahuanmu”.
אַל־תִּשָּׁעֵֽן “al-tissaen” terdiri dari kata אַל־ “al” yang merupakan kata keterangan negatif artinya “tidak, tidak pernah, dari pada, tidak ada, jangan pernah”. Dan תִּשָּׁעֵֽן “tissen” merupakan kata kerja nifal[1] imperfek dengan kata ganti orang kedua maskulin tunggal dari akar kata שָׁעַן “shaan” yang artinya “bersandar, menopang diri sendiri, bergantung” juga bisa berarti “kebohongan”. Jadi אַל־תִּשָּׁעֵֽן “al-tissen’ berarti “janganlah pernah akan kamu tersandar” atau “janganlah pernah akan kamu tergantung”, karena merupakan kata kerja nifal imperfect dengan kata ganti orang kedua maskulin tunggal.
Di awal ayat ini kita telah diperintahkan untuk percaya kepada TUHAN. Ada dua macam kata “percaya’ yang di dalam bahasa Ibrani yakni:
1. בְּטַ֣ח “batakh” artinya “trust” (ams 3:5; 11:28; 16:20) מִבְטָח “mibetakh” bentuk pasif dari kata “batakh” (ams 21:22). Artinya percaya menyangkut keselamatan dan keamanan (Kej 34:25; 32:17) yang juga berarti aman (Im 25:18; Hakim 18:7; Yes 14:30) merasa aman atau menjadi percaya diri (Maz 33:21; Yes 12:2)
2. אָמַן “aman” artinya “believe” (ams 14:15; 26:25) adalah percaya dalam arti mendukung. Contoh “saya percaya apa yang dikatakan”.
Jadi perintah “percaya kepada TUHAN” karena mengunakan kata בְּטַ֣ח “batakh” maka berarti mempercayakan keselamatan dan keamanan hidup kita pada TUHAN. Ini merupakan persyaratan pertama dari janji di ayat 8.
Kita harus menjalani kehidupan yang bergantung kepada Allah, karena itulah jalan menuju keselamatan.[2] Dengan iman kita harus menaruh segenap keyakinan kita di dalam hikmat kuasa dan kebaikan Allah. Menyakinkan diri kita untuk menjangkau pemeliharaaa-Nya yang terulur kepada segenap mahkluk ciptaan-Nya oleh karena itu kita harus percaya kepada TUHAN dengan segenap manusia batiniah, pikiran, kemauan dan hati kita. Kita harus percaya bahwa Dia sanggup melakukan apapun yang Dia kehendaki dan dengsn bijak memutuskan yang terbaik kita juga harus percaya bahwa Ia sangat baik, sesuai dengan janji-Nya, jika kita mengasihi dan melanyani –Nya. Dengan segenap hati yang tunduk dan puas kita harus sepenuhnya mengandalkan Dia.
Persyaratan kedua dari janji di ayat 8 adalah “dan kepada pengetahuanmu janganlah pernah akan kamu tersandar”.
Kata “tersandar” yang diterjemahkan dari תִּשָּׁעֵֽן “tissaen” merupakan kata kerja nifal imperfek. Nifal adalah kata kerja bentuk pasif dari qal karena itu artinya bukan “bersandar” tetapi “tersandar”. “Tersandar adalah kata kerja pasif intransitif yaitu kata kerja yang tidak membutuhkan objek, yang berarti tak sengaja atau tanpa sengaja, sedangkan imperfect adalah untuk menyatakan peristiwa yang sedang atau akan berlangsung. Tersandar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti terletak miring, tertumpu, atau tertopang.[3] Merupakan kata kerja pasif dengan kata benda sebagai objek.
contoh: kakak mengambil payung yang tersandar di dinding.
Objeknya adalah payung, payung sebagai benda mati tidak punya pilihan selain menerima dimana ia diletakan. Tetapi kita adalah mahkluk hidup, bukan benda mati karena itu firman disini dengan jelas mengatakan “jangan pernah kamu tersandar” artinya janganlah menjadi seperti benda mati yang tersandar pada pengetahuan kita seperti payung yang tersandar di dinding, kalau suatu saat dinding itu roboh maka payung itu pasti akan jatuh. Bukan pengetahuan yang mengendalikan kita tetapi kitalah yang mengendalikan pengetahuan. Jangan sampai kita terkendali oleh pengetahuan kita atau pengertian kita karena pengetahuan atau pengertian kita sendiri terbatas, dan mudah salah (Ef 4:18). Kalau kita tersandar (tanpa sengaja) pada pengetahuan kita dan pengertian kita sendiri suatu saat kita pastilah jatuh. Karena itu pengetahuan kita dan pengertian kita haruslah diterangi oleh firman Allah dan dipimpin Roh Kudus (Rom 8:9-16). Kita harus berdoa memohon hikmat dan kehendak Allah di dalam semua keputusan dan sasaran hidup kita.[4]
Percayakan keamanan dan keselamatan kita pada TUHAN dengan segenap hati, pikiran, bahkan kemauan kita dan jangan menjadi seperti benda mati yang tidak bisa menolak dimana ia diletakkan, jangan menjadi seperti benda mati yang dikendalikan oleh pengetahuan dan pengertian kita, melainkan aktif membawa pengetahuan dan pengertian kita untuk dipimpin oleh Allah. Itulah syarat pertama dan kedua.
Kemudian muncul pertanyaan bagaimana seseorang bisa dikatakan tersandar kepada pengertiannya sendiri? Atau apa yang membuat orang itu tersandar pada pengetahuan dan pengertiannya sendiri? secara khusus hal ini dibahas pada ayat 7.
Syarat ketiga
KJV
3:6 in all thy ways acknowledge him, and he shall direct thy paths
3:6 בְּכָל־דְּרָכֶ֥יךָ דָעֵ֑הוּ וְ֝ה֗וּא יְיַשֵּׁ֥ר אֹֽרְחֹתֶֽיךָ׃
Terjemahan Bahasa Indonesia
3:6 akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
Terjemahan penulis
3:6 Didalam jalan-jalanmu kenallah Dia dan Dia akan meluruskan jalan-jalanmu.
syarat ketiga dari janji di ayat 8 adalah
Frasa “akuilah Dia dalam segala lakumu” diterjemahkan dari frasa בְּכָל־דְּרָכֶ֥יךָ דָעֵ֑הוּ “becal derakeka daehu”
Kata בְּכָל “becal” terdiri dari kata depan בְּ “be” artinya “di, didalam, pada, dengan, oleh” dan כָל “kal” merupakan kata benda maskulin tunggal dari akar kata כֹּל “kol” artinya “segenap, seluruh, semua, masing-masing, keseluruhan” jadi בְּכָל “becal” artinya “didalam keseluruhan”.
Kata דְּרָכֶ֥יךָ “derakheka” merupakan kata benda jamak dengan kata ganti orang kedua maskulin tunggal dari akar kata דֶּרֶךְ “derekh” artinya “cara, jalan, jarak, perjalanan”. Jadi דְּרָכֶ֥יךָ “derakheka” berarti “jalan-jalanmu” atau “cara-caramu”.
Kata דָעֵ֑הוּ “daehu”merupakan kata kerja qal imperatif maskulin tunggal dengan kata ganti orang ketiga maskulin tunggal dari akar kata יָדַע “yada” artinya “mengetahui, mengenal”. Jadi דָעֵ֑הוּ “daehu’ arti “ketahuilah Dia” atau “kenallah Dia”.
Jadi frasa בְּכָל־דְּרָכֶ֥יךָ דָעֵ֑הוּ “becal derakeka daehu” berarti “didalam jalan-jalanmu kenallah Dia” atau “didalam cara-caramu kenallah Dia”
Kata kunci untuk frasa ini adalah דָעֵ֑הוּ “daehu” “ketahuilah Dia” atau “kenallah Dia” dari akar kata “yada”. Kata “yada” dalam PL dan “ginosko” dalam PB ditemukan di seluruh kitab dalam Alkitab, didalam PL kata ini diulang sebanyak 873 dan 33 diantaranya ada didalam Amsal.[5] Didalam kejadian 4:1 “adam yada hawa” kemudian hawa hamil dan melahirkan kain, beberapa alkitab menerjemahkan kata ini sebagai “adam mengenal hawa” beberapa lainnya menerjemahkan sebagai “adam berbaring bersama hawa”, kedua terjemahan itu benar, tetapi kata “yada” lebih dari sekedar atau mengenal dan berbaring. “yada” artinya “mengenal” atau “mengetahui” dalam lima dimensi. Kelima dimensi atau aspek ini sangat penting didalam memahami makna “yada” yang seutuhnya. Kata yunani “ginosko”, dalam perjanjian baru memiliki konotasi penafsiran yang sangat mirip dengan “yada” dan digunakan sebagai pengganti “yada” dalam PL versi Septuaginta.[6]
1. Mengetahui secara detail, dalam konsep ini mengetahui Tuhan secara lebih detail.
Dimensi pertama יָדַע “yada” adalah mengetahui sesuatu atau seseorang secara detail. Itu berarti mempelajari, menganalisis, dan menyelidiki sesuatu sampai kita mengetahui sesuatu atau seseorang sepenuhnya. Seperti seorang ditektif, yang menyelidiki suatu misteri. Efesus 1:17 rasul Paulus berdoa agar jemaat di efesus memiliki “roh hikmat dan wahyu”, sehingga mereka dapat mengenal Dia dengan lebih baik. Mereka membutuhkan lebih banyak detail agar יָדַע yada atau ginosko Tuhan lebih baik, lebih jauh lagi, meskipun mereka sudah mnegenal Tuhan. Masih banyak yang perlu diketahui
2. Mengetahui secara teknis dalam konteks alkitab menetahui jalan Tuhan.
Dimensi kedua יָדַע “yada” adalah mengetahui secara teknis. Seperti seseorang yang berusaha memperbaiki mobilnya setelah kecelakaan untuk meminimalisir pengeluarannya, orang tersebut tahu tentang mobil tahu mengendarainya, tetapi apakah dia tahu setiap mesin dan fungsi dari mesin-mesin itu, bahkan jika dia tahu setiap mesin-mesin itu dan fungsinya apakah dia tahu bagaimana menangani setiap masalah pada mesin-mesin itu. Banyak orang tahu tentang Tuhan tetapi berapa banyak yang benar-benar mengenal Tuhan dengan baik sehingga mereka tahu seluk beluk cara Ia bekerja. יָדַע “yada” tidak hanya mengetahui detail tentang Tuhan tetapi juga mengetahui atau mengenal jalan-jalan-Nya. Kel 33:13 “maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia dihadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku יָדַע “yada” Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunnia dihadapan-Mu. Ingatlah bahwa bangsa ini umat-Mu. Mampu memahami jalan Tuhan sehingga kita ddapat mengambil dari-Nya apa yang kita butuhkan dan memberikan apa yang Dia inginkan dari kita. Untuk memajukan hubungan kita dengan Tuhan.
3. Mengenal
Dimensi ketiga adalah mengenal Tuhan melalui pengalaman pribadi banyak orang tahu tentang Tuhan tetapi Tuhan ingin kita mengenal Dia melalui pertemuan dimana kita secara pribadi mengalami kehadiran-Nya. Banyak orang berpikir bahwa membaca firman Tuhan dan melakukannya adalah cukup untuk memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Tuhan ingin bertemu, יָדַע “yada” mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan sehingga kita menjadi tempat kediaman hadirat-Nya dan kemudian “membocorkan” kehadiran-Nya kepada orang lain melalui tanda dan mujizat. Sehingga mereka memilik pertemuan pribadi dengan-Nya.
4. Pertemuan tatap muka yang dekat dan pribadi
Dimensi keempat yada adalah pertemuan tatap muka. Mendapatkan kebaikan Tuhan yang diekspresikan dalam penyembuhan fisik, pengampunan, intervensi, penyediaan, atau berkat adalah suatu hal, tetapi Tuhan menginginkan pertemuan tatap muka yang dekat dan pribadi. Tuhan tidak hanya ingin memenuhi kebutuhan kita, tetapi yang paling utama adalah mengungkapkan dirinya kepada kita setiap hari.
5. Keintiman
Dimensi kelima dan terakhir adalah keintiman, bisa berarti seksual antar manusia. Beberapa orang bahkan mengatakan dimensi kelima ini tidak dapat sepenuhnya dialami sampai seseorang telah memenuhi keempat dimensi pertama secara komprehensif. Tujuan yada adalah keintiman. Seperti adam yada hawa dan dia melahhirkan kain. Tuhan ingin kita berbuah dan melahirkan anak-anak rohani. Keintiman itu lahir dari pengenalan akan Tuhan secara mendetaildan kebijaksanaan teknis, yang mengarah kepada pertemuan ttap muka pribadi.
Ini berarti bahwa didalam jalan-jalan kita, kita harus mengetahui secara lebih detail tentang Tuhan yakni lebih dalam mempelajari, menganalisis, dan menyelidiki firman Tuhan, mengetahui jalan Tuhan dengan meminta petunjuknya seperti Musa, mengenal Tuhan melalui pengalaman pribadi yakni mengalami firman, bertemu Tuhan tatap muka yang dekat dan pribadi yaitu doa, dan intim dengan Tuhan. Jika kita dapat melakukan lima dimensi dari kata “yada” ini maka kita telah mengenal Tuhan. Ingat ini adalah perintah.
Frasa “maka Ia akan meluruskan jalanmu” diterjemahkan dari frasa וְ֝ה֗וּא יְיַשֵּׁ֥ר אֹֽרְחֹתֶֽיךָ “wehu yeyasyer orekhoteka”
Kata וְ֝ה֗וּא “wehu” terdiri dari וְ֝ “we” kata penghubung artinya “dan, tetapi, maka, lalu” dan “hu” merupakan kata ganti orang ketiga maskulin tunggal. Maka וְ֝ה֗וּא “wehu” artinya “dan Dia”
Kata יְיַשֵּׁ֥ר “yeyasyer” merupakan kata kerja piel imperfek dengan kata ganti orang ketiga maskulin tunggal dari akar kata יָשַׁר “yasyar” artinya “menjadi halus, lurus, benar, kanan”. Jadi יְיַשֵּׁ֥ר “yeyasyer” artinya “Dia akan meluruskan” karena merupakan kata kerja piel.
Kata אֹֽרְחֹתֶֽיךָ “orekhoteka” adalah kata benda jamak dengan kata ganti orang kedua maskulin tunggal dari akar kata אֹרַח “orakh” yang artinya “cara, jalan”. Jadi אֹֽרְחֹתֶֽיךָ “orekhoteka” artinya “jalan-jalanmu”
Perhatikan ada dua kata yang memiliki arti “jalan-jalanmu” atau “cara-caramu”
1. דֶּרֶךְ Derekh artinya “cara” atau “jalan” (Yun 3:8).
2. אֹרַח Orakh artinya “cara” atau “jalan” (Mzm 119:9).
Kedua kata ini memiliki arti yang sama dan sama-sama bisa digunakan dalam bentuk harafiah maupun kiasan. Perbedaannya adalah דֶּרֶךְ “derekh” artinya jalan yang besar atau lebar seperti jalan raya atau jalan tol sedangkan אֹרַח “orakh” artinya jalan setapak atau jalan yang sempit. Amsal dengan jelas mengatakan “didalam jalan-jalanmu kenallah Dia dan Dia akan meluruskan jalan-jalanmu”. “Jalan-jalanmu” dari frasa pertama maksudnya adalah jalannya kita yang lebar tanpa batasan, dijalan yang lebar tanpa batasan ini kita diperintahkan untuk יָדַ“yada TUHAN” yakni ketahui kehendak Tuhan secara detail, minta TUHAN tunjukan jalan-Nya seperti yang dilakukan Musa, kemudian mengenal TUHAN, bertemu muka, dan intim, setelah itu TUHAN akan “meluruskan jalan-jalanmu” pada frasa kedua, maksudnya adalah kita tidak lagi akan berjalan bebas dijalan yang besar tadi sesuai yang kita mau atau melakukan apapun yang kita mau, seperti pada manusia lama kita menurut PB, tetapi kita akan berada di bawah hukum dan firman Allah yang mengawasi sehingga jalan yang tadinya lebar sekarang menjadi sempit, ini sekaligus menjelaskan sulitnya hidup menurut hukum dan firman TUHAN, tapi di jalan yang sempit itulah TUHAN akan menolong kita.
Matius 7:13-14 masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.
[1] Umumnya nifal diterjemahkan sebagai bentuk pasif dari qal tetapi juga mempunyai arti refleksif, T.G.R. Boeker, M.Th, Bahasa Ibrani Jilid II (Batu: Departement Multimedia bag. Literatur YPPII)42
[2] Matthew henry commentary
[3] kamus Besar Bahasa Indonesia, https://www.google.com/amp/s/kbbi.web.id/sandar.html
[4] Full Life, penuntun Hidup Berkelimpahan.
[5] Bible Study Tools, https://www.biblestudytools.com/lexicon/hebrew/kjv/yada.html
[6] Kevin Dedmon Ministries, Yada Yada Yada, https://www.kevindedmon.com/blog/2014/9/16/yada-yada-yada
