Eksposisi Amsal 3:3-4
Eksposisi Amsal 3:3-4 adalah kelanjutan dari eksposisi amsal 3:1-2.
KJV
3:3 Let not mercy and truth forsake thee: bind them about thy neck; write them upon the table of thine heart:
3:3 חֶ֥סֶד וֶאֱמֶ֗ת אַֽל־יַעַ֫זְבֻ֥ךָ קָשְׁרֵ֥ם עַל־גַּרְגְּרֹותֶ֑יךָ כָּ֝תְבֵ֗ם עַל־ל֥וּחַ לִבֶּֽךָ׃
Alkitab Bahasa Indonesia
3:3 Janganlah kiranya kasih dan setiameninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,
Terjemahan Penulis
3:3 Kebaikan, kecantikan, dan ketegasan, kesetiaan, kebenaran janganlah akan mereka meninggalkan engkau, ikatlah mereka pada laringmu, tuliskan mereka pada lempengan manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, dan hatimu
Kasih dan setia berasal dari frasa חֶ֥סֶד וֶאֱמֶ֗ת “khesed weemet”.
Kata חֶ֥סֶד “khesed” merupakan kata benda maskulin tunggal berasal dari akar kata חֵסֵד “khesed” yang artinya “kebaikan” dan “kecantikan” dalam implikasi kepada Allah. Kata “khasad” dalam penggunaannya selalu untuk perbuatan baik, ramah, penyayang, dan belas kasihan. Kata חֶ֥סֶד “khesed” berarti “kebaikan”. Kita sering mengartikan “kebaikan” sebagai tindakan yang kita lakukan terhadap atau untuk orang lain, tetapi kata חֶ֥סֶד “khesed’ disini bukan sekedar tindakan. חֶ֥סֶד “khesed” di dalam bahasa inggris diartikan sebagai “kindness” dan “goodness”. Kindness adalah tentang attitude atau sikap hati kita atau kepribadian[1] melibatkan kemurahan hati dan perhatian,[2] menunjukan bahwa kemurahan dan perhatian telah menjadi bagian dari kepribadian kita sedangkan goodness adalah tentang tindakan kita.[3]
Beberapa orang dilahirkan dengan kindness atau kepribadian yang lembut tetapi yang lain harus belajar di dalam kuasa Roh Kudus untuk menolong diri mereka, bahkan jika kita dilahirkan dengan kindness atau kepribadian yang lembut tidak bearti kita telah menggunakannya untuk pekerjaan Allah. Buah Roh dikembangkan dalam diri kita sehingga kita dapat menunjukan sifat Tuhan kepada dunia.
Dari sini dapat dilihat bahwa kata חֶ֥סֶד “khesed” dalam ayat ini berbicara tentang kepribadian dan tindakan kita dengan implikasi kepada Allah dengan cara inilah gereja sebagai mempelai perempuan Kristus terlihat cantik mengingat kata חֶ֥סֶד “khesed” berasal dari akar kata חֵסֵד “khesed”. Dan juga berarti bahwa kebaikan adalah seperti pakaian yang dipakai, itu adalah sebuah pilihan bukan reaksi.[4]
וֶאֱמֶ֗ת “Weemet” terdiri dari kata penghubung וֶ “we” dan kata אֱמֶ֗ת “emet” yang merupakan kata benda feminim tunggal yang berarti “ketegasan, kesetiaan dan kebenaran”. Jadi וֶאֱמֶ֗ת “weemet” artinya “dan ketegasan, kesetiaan, kebenaran”
Frasa “janganlah meninggalkan engkau” berasal dari kata אַֽל־יַעַ֫זְבֻ֥ךָ “al-ya’azbuka”. אַֽל “al” artinya “tidak, jangan atau janganlah”. Sedangkan יַעַ֫זְבֻ֥ךָ “ya’azbuka” merupakan kata kerja qal imperfect kata ganti orang ketiga jamak dengan kata ganti orang kedua tunggal dari akar kata עָזַב “azab” artinya “pergi, meninggalkan, lepas”. Maka יַעַ֫זְבֻ֥ךָ “ya’azbuka” berarti “mereka akan meninggalkan engkau”. Maka אַֽל־יַעַ֫זְבֻ֥ךָ “al-ya’azbuka” berarti “janganlah akan mereka meninggalkan engkau
Frasa חֶ֥סֶד וֶאֱמֶ֗ת אַֽל־יַעַ֫זְבֻ֥ךָ “khesed weemet al-ya’azbuka” artinya “kebaikan, kecantikan, ketegasan, kesetiaan, dan kebenaran janganlah akan mereka meninggalkan engkau”
Frasa “kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,” diambil dari frasa קָשְׁרֵ֥ם עַל־גַּרְגְּרֹותֶ֑יךָ כָּ֝תְבֵ֗ם עַל־ל֥וּחַ לִבֶּֽךָ׃ “qaserem al-gargeroteka katebem al-luah libbeka”
Frasa “kalungkanlah pada lehermu” diterjemahkan dari frasa קָשְׁרֵ֥ם עַל־גַּרְגְּרֹותֶ֑יךָ “qaserem al-gargeroteka”
Kata קָשְׁרֵ֥ם “qaserem” adalah kata kerja qal imperatif maskulin tunggal dengan kata ganti orang ketiga maskulin jamak berarsal dari akar kata “kashar” yang artinya “mengikat, bersatu, atau bersekongkol”. Karena kata קָשְׁרֵ֥ם “qaserem” adalah kata kerja qal imperatif dengan kata ganti orang ketiga maskulin jamak maka קָשְׁרֵ֥ם “qaserem” artinya adalah “ikatlah mereka” atau “satukanlah mereka”.
Kata עַל־גַּרְגְּרֹותֶ֑יךָ “al-gargeroteka”. Kata depan עַל “al” dalam frasa ini memiliki arti yang berbeda dengan frasa-frasa sebelumnya.
עַל “al” pada kata עַל־גַּרְגְּרֹותֶ֑יךָ “al-gargeroteka” artinya “pada, atas, lebih, dalam, ke, ke atas dan lain-lain”. עַל “al” pada frasa ini merupakan kata depan yang diawali dengan huruf “ayin” sedangkan אַֽל “al” pada frasa-frasa sebelumnya berarti “tidak, bukan, jangan, janganlah dan lain-lain” merupakan kata depan partikel negatif yang diawali huruf “alef”. Sedangkan גַּרְגְּרֹותֶ֑יךָ “gargeroteka” merupakan kata benda feminim jamak dengan kata ganti orang kedua maskulin tunggal dari akar kata גַּרְגְּרוֹת “gargeroth” yang artinya “leher”, maka “gargeroteka” berarti “leher-lehermu”. Jadi עַל־גַּרְגְּרֹותֶ֑יךָ “al- gargeroteka” berarti “pada lehermu”.
Frasa “tuliskanlah itu pada loh hatimu” berasal dari frasa כָּ֝תְבֵ֗ם עַל־ל֥וּחַ לִבֶּֽךָ “ketebem al-luah libbeka”
Kata כָּ֝תְבֵ֗ם “katebem” merupakan kata kerja qal imperatif maskulin tunggal dengan kata ganti orang ketiga maskulin jamak dari akar kata כָּתַב “kathab” yang artinya “menulis”. Maka כָּ֝תְבֵ֗ם “katebem” berarti “tuliskanlah mereka” atau “tuliskan mereka”. “Menulis” diartikan “tuliskanlah” atau “tuliskan” karena kata כָּ֝תְבֵ֗ם “katebem” merupakan kata imperatif yaitu perintah.
Kata עַל־ל֥וּחַ “al-luah”. עַל “al” dengan hruf “ayin” artinya “pada, atas, lebih, dalam, ke, ke atas”. Sedangkan ל֥וּחַ “luah” merupakan kata benda maskulin tunggal “tablet, papan, piring”.
Tablet menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:[5]
1. Obat dalam bentuk butiran atau pipih.
2. Lempengan tanah liat.
3. Bidang papan kayu.
Maka עַל־ל֥וּחַ “al-luah” berarti “pada tablet atau lempengan”.
Kata לִבֶּֽךָ “libbeka” merupakan kata benda maskulin tunggal dengan kata ganti orang kedua tunggal berasal dari akar kata לֵב “leb” yang artinya “manusia batiniah, pikiran, kemauan, hati”. Ini berarti kata לִבֶּֽךָ “libbeka” artinya “manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, hatimu”.
Maka frasa כָּ֝תְבֵ֗ם עַל־ל֥וּחַ לִבֶּֽ “katebem al-luah libbeka” artinya “tuliskan mereka pada lempengan manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, dan hatimu”.
Maka קָשְׁרֵ֥ם עַל־גַּרְגְּרֹותֶ֑יךָ כָּ֝תְבֵ֗ם עַל־ל֥וּחַ לִבֶּֽךָ “qaserem al-gargeroteka katebem al-luah libbeka” berarti “ikatlah mereka pada leher-lehermu, tuliskan mereka pada lempengan manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, dan hatimu”.
Ayat 3 berbicara tentang hubungan kita dengan Tuhan, sesama dan diri sendiri.
1. Hubungan dengan Tuhan. Dijelaskan dalam kata חֶ֥סֶד “khesed” yang berarti kebaikan dan kecantikan” seperti yang sudah dijelaskan kebaikan dalam kata ini berarti kebaikan dan kepribadian dan tindakan” kepribadian dan tindakan kita membuat kita sebagai mempelai Kristus terlihat cantik. Kepribadian dan tindakan dalam kebaikan adalah kebaikan menurut Allah bukan manusia. Inilah hikmat yang dibicarakan pada Amsal 3:1-26 ini.
2. Hubungan dengan sesama. Kebaikan yang kita lakukan terhadap atau untuk orang lain karena Tuhan akan menjadikan hubungan kita dengan sesama juga akan baik atau lebih baik.
3. Hubungan dengan diri sendiri וֶאֱמֶ֗ת אַֽל־יַעַ֫זְבֻ֥ךָ קָשְׁרֵ֥ם עַל־גַּרְגְּרֹותֶ֑יךָ כָּ֝תְבֵ֗ם עַל־ל֥וּחַ לִבֶּֽךָ “weemet al-ya’azbuka qaserem al-gargeroteka katebem al-luah libbeka” “ketegasan, kesetiaan, dan kebenaran janganlah akan mereka meninggalkan engkau ikatlah mereka pada leher-lehermu, tuliskan mereka pada lempengan manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, dan hatimu”. Dengan jelas penulis Amsal mengatakan jangan sampai ketegasan, kesetiaan, kebenaraan akan firman Tuhan meninggalkan kita sebaliknya ada perintah didalam ayat ini bahwa mereka yakni ketegasan, kesetiaan, kebenaraan akan firman Tuhan harus diikatkan atau disatukan pada leher kita.
Apa yang oleh dimaksud Amsal 3 ini tentang leher?
Kata גַּרְגְּרוֹתֶ֑יךָ “gargeroth” didalam kitab Amsal diulang sebanyak empat kali, dua diantaranya ada didalam perikop ini. Jadi kata ini adalah salah satu kata yang penting untuk diselidiki. Kata גַּרְגְּרוֹתֶ֑יךָ “gargeroth” sendiri memiliki arti yang lebih spesifik.
Didalam kitab Amsal ada beberapa kata yang semuanya memiliki arti “leher”.
1. גַּרְגְּרוֹת Gargeroth artinya laring. Laring merupakan organ pada leher yang melindungi trakea dan berperan penting dalam produksi suara juga merupakan saluran penghubung antara pangkal rongga mulut dan trakea. Didalam laring terdapat jaringan yang disebut pita suara yang menghasilkan suara atau bunyi. Laring sendiri merupakan sebuah saluran berbentuk tabung tak beraturan. [1] Laring tersusun dari 3 kartilago besar yang tidak berpasangan (cricod,thyroid, epliglottis), serta 3 kartilago kecil yang berpasangan (arytenids, corniculate, cuneiform),[2] itu sebabnya גַּרְגְּרוֹת “gargeroth” adalah kata fenimin jamak.


2. לֹעַ Loa (Amsal 23:2) artinya tenggorokan. Tenggorokan adalah organ yang terletak di belakang mulut, di bawah lubang hidung, dan di atas kerongkongan serta jalur udara utama yang disebut trakea. Organ ini, merupakan bagian dari sistem pernapasan sekaligus sistem pencernaan. Di dalam dunia medis, tenggorokan disebut juga dengan istilah faring atau pharynx[3]

3. עֹ֑רֶף Oref atau araf (Amsal 29:1) artinya punggung leher atau belakang leher.
4. צַוָּאר Tsawar dalam Kidung Agung (Kid 1:10) artinya leher (secara keseluruhan).
Jadi frasa “Kebaikan, kecantikan, dan ketegasan, kesetiaan, kebenaran janganlah akan mereka meninggalkan engkau, ikatlah mereka pada lehermu”, maksudnya adalah ikatlah mereka pada laringmu (karena menggunakan kata גַּרְגְּרוֹת gargeroth), ini berarti setiap perkataan yang keluar haruslah kata-kata kebaikan, cantik, tegas, setia dan benar yang sesuai kebenaran dengan implikasi kepada Allah. Tindakan kita, perkataan kita yang sesuai firman itulah yang Amsal katakan menjadi perhiasan kita dihadapan Allah. Kita sendirilah yang harus mengikatkan firman dan hukum Allah pada laring kita, sehingga tidak ada kata sia-sia atau kata-kata kotor yang keluar sekalipun tanpa sengaja kita mengucapkan kata-kata sia-sia atau kotor maka dengan cepat pula kita pasti akan menyadarinya.
Bukan saja diikatkan pada laring, segala firman dan hukum Allah harus ditulis didalam manusia batiniah kita, pikiran kita, kemauan kita, dan perasaan kita. Dengan demikain kita mengenakan seluruh perhiasan sebagai mempelai perempuan atau sebagai anak yang mendengarkan didikan orang tua menurut Amsal.
KJV
3:4 So shalt thou find favour and good understanding in the sight of God and man
3:4 וּמְצָא־חֵ֖ן וְשֵֽׂכֶל־טֹ֑וב בְּעֵינֵ֖י אֱלֹהִ֣ים וְאָדָֽם׃ פ
Terjemahan Bahasa Indonesia
3:4 Maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.
Terjemahan Penulis
3:4 Maka temukan kasih karunia dan wawasan yang baik dalam pemandang Allah dan manusia.
Frasa “Maka engkau akan mendapat” diambil dari kata וּמְצָא־ “wemetsa” terdiri dari kata penghubung וּ “we” artinya “dan, tetapi, selanjutnya, maka, dll”, dengan kata kerja מְצָא “metsa” yang merupakan kata kerja qal imperatif maskulin tunggal dari akar kata “matsa” artinya “mencapai, menemukan”. Maka וּמְצָא־ “wemetsa’ berarti “maka temukan”
Kata “kasih” berasal dari kata חֵ֖ן “hen” merupakan kata benda maskulin tunggal yang artinya “nikmat, kasih karunia, berkah, kebaikan”
“dan penghargaan” diterjemahkan dari kata וְשֵֽׂכֶל־ “wesekel”, terdiri dari וְ “we” artinya “dan,selanjutnya, tetapi, maka, dll”, sedangkang kata שֵֽׂכֶל “sekel”merupakan kata benda maskulin tunggal yang artinya “kehati-hatian, wawasan” dalam implikasi sukses. Dalam penggunaannya kata ini sering diterjemahkan sebagai “kebijaksanaan, pengetahuan, akal pengertian, dan kehati-hatian”.
Ada satu kata yang tidak terdapat didalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia yakni kata ט֑וֹב “towb” merupakan kata sifat maskulin tunggal yang berarti “baik, yaman, cocok, atau menyenangkan, tinggi”
Karena וְשֵֽׂכֶל־ “sekel” adalah kata benda dan ט֑וֹב “towb” adalah kata sifat. Di dalam bahasa ibrani jika kata benda ditambah kata sifat maka artinya ditambahkan “yang”. Jadi וְשֵֽׂכֶל־ ט֑וֹב “wesekel towb” artinya “dan wawasan yang baik atau dan wawasan yang tinggi”.
Frasa “dalam pandangan Allah” diterjemahkan dari frasa בְּעֵינֵ֖י אֱלֹהִ֣ים “beeyin elohim”
Kata בְּעֵינֵ֖י “beeyin” terdiri dari kata depan בְּ “be” yang artinya “di’ atau “didalam”. Sedangkang kata עֵינֵ֖י “eyin” kata benda umum artinya “mata” dalam arti harafiah dan “pandangan’ dalam arti kiasan.
Kata אֱלהִים “elohim’ merupakan kata benda maskulin jamak artinya “Allah”. Maka בְּעֵינֵ֖י אֱלֹהִ֣ים “beeyin elohim” berarti “dalam pandangan Allah” atau “di mata Allah”.
“dan manusia” dan manusia diterjemahkan dari וְאָדָֽם “weadam”, וְ “we” artinya “dan” dan אָדָֽם “adam” merupakan kata benda maskulin tunggal artinya “manusia”. Jadi וְאָדָֽם “weadam” artinya “dan manusia”.
ayat 4 merupakan perintah yang sekaligus bersifat janji yakni “temukanlah kasih karunia dan wawasan yang baik dalam pemandang Allah dan manusia” persyaratannya ada di ayat 3 jika kita tidak membiarkan kebaikan, kecantikan, dan ketegasan, kesetiaan, kebenaran meninggalkan kita tetapi sebaliknya mengikat mereka pada laring kita yang berarti membiarkan mereka memiliki kendali penuh atas setiap perkataan kita serta menuliskan mereka di dalam manusia batiniah kita maka kita juga pasti akan bisa menemukan kasih karunia dan wawasan yang baik dalam pemandang Allah dan manusia.
Jadi bagaimana cara menemukan kasih karunia dan wawasan yang baik dalam pemandang Allah dan manusia???
Lukas 2:52 memberikan jawabannya “dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”. Perhatikan frasa bertambah besar dan bertambah hikmat-nya dan besar-Nya oleh Allah dan manusia” . Frasa ini diterjemahkan dari frasa προέκοπτεν ἐν τῇ σοφίᾳ καὶ ἡλικίᾳ καὶ χάριτι παρὰ Θεῷ καὶ ἀνθρώποις “proekopten en te sofia kai helikia kai kariti para Theo kai anthropois” artinya “Dia membuat kemajuan dalam kebijaksanaan dan kedewassan dan kasih karunia dihadapan Allah dan manusia”. Ini terjadi pada waktu Yesus masih berumur 12 tahun dan berada di dalam bait Allah. Pada Lukas 2:41-52 ini mengajarkan bahwa Yesus lebih mengutamakan Bapa di sorga dari pada orang tua-Nya. Yesus lebih mengutamakan berada di bait Allah sambil mendengarkan alim ulama dan mengajukan pertanyaan menunjukkan bahwa Yesus belajar firman Allah dari para alim ulama Ia mengutamakan hubungannya dengan Allah lebih dari pada orang tua—Nya, jadi apakah Yesus tidak menghormati Yusuf dan Maria? TIDAK, pada ayat 51 dikatakan “lalu Ia pulang bersama-sama dengan mereka dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Disini Yesus menunjukkan urutan yang sangat jelas bagaimana agar kita memperoleh kasih karunia dan wawasan yang baik di hadapan Allah dan manusia yakni:
1. Pelajari firman, kalau punya pertanyaan jangan ragu untuk bertanya, utamakan Tuhan lebih dari apapun bahkan lebih dari pada orang tua kita sendiri setelah itu barulah
2 Hidup dalam asuhan orang tua, arti asuhan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bimbingan atau didikan.[1] Kita diajarkan untuk hidup dibawah asuhan orang tua tetapi tidak boleh terlepas dari firman Tuhan, ini merupakan salah satu bentuk mengutamakan Tuhan.
[1] DR. Willy Yusmawan, Sp.THT-KL,Msi.MED, https://rskariadi.co.id/news/145/penyebab-gejala-diagnosis-dan-pengobatan-kanker-laring/artikel
[2] Merdeka.com, https://www.merdeka.com/trending/5-fungsi-laring-beserta-pengertianya-kln.html
[3] Sehatq, Kementrian kesehatan Republik Indonesia, https://www.sehatq.com/artikel/fungsi-tenggorokan-ternyata-penting-dalam-sederetan-sistem-tubuh-ini
[1] https://chruchtrainer.com/whats-difference-kindness-goodness/
[2] Hasa, difference between kindness and goodness, https://www.google.com/amp/s/www.difference between.com/difference-between-kindness-and-goodness/amp/
[3] ps://chruchtrainer.com/whats-difference-kindness-goodness/
[4] https://chruchtrainer.com/whats-difference-kindness-goodness/
[5] Kamus Besar Bahasa Indonesia, https://www.google.com/amp/s/kbbi.web.id/tablet.html
[6] DR. Willy Yusmawan, Sp.THT-KL,Msi.MED, https://rskariadi.co.id/news/145/penyebab-gejala-diagnosis-dan-pengobatan-kanker-laring/artikel
[1]kamus Besar Bahasa Indonesia, https://www.google.com/amp/s/kbbi.web.id/asuhan.html
