Eksposisi dan tafsiran amsal 3:1-2

Penulis berencana mengeksposisi Amsal 3:1-26. tetapi karena ini adalah perikop yang cukup panjang maka untuk permulaan penulis hanya mengeksposisi ayat 1 dan 2. artikel selanjutnya akan di ikuti oleh eksposisi ayat 3-4, dan begitu seterusnya.

Kitab amsal

Amsal berasal dari kata “misyle” dari singkatan “misyle syelomoh”. Amsal adalah kitab panduan bagi hidup yang berhasil tanpa secara khusus menekankan tema-tema profetis yang besar. Amsal menunjukkan bagaimana iman mempengaruhi hidup secara umum.[1] Amsal 1:1-9 berbicara tentang kepentingan dari hikmat, kitab ini juga berisi kumpulan ucapan ringkas dan nasihat prilaku yang mendidik orang muda.[2]

Amsal 3 : 1 – 26 Berkat dan hikmat

Amsal 3:1-26 terbagi dalam beberapa bagian.

Pasal ini merupakan salah satu pasal terunggul dari seluruh kitab amsal, karena di dalamnya terdapat alasan-alasan dan pengarahan yang mendorong kita supaya menjadi lebih saleh.[3]

Bagian I

Ayat 1-8 Ajaran yang adalah perintah.

KJV

3:1 My son, forget not my law; but let thy heart keep my commandments:

Alkitab Bahasa Indonesia

3:1 Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku,  dan biarlah hatimu memelihara perintahku,

3:1 בְּ֭נִי תֹּורָתִ֣י אַל־תִּשְׁכָּ֑ח וּ֝מִצְוֹתַ֗י יִצֹּ֥ר לִבֶּֽךָ׃

Terjemahan penulis

3:1 anakku, jangan akan kamu melupakan tauratku, dan firman-firmanku dia akan mengawal manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, dan hatimu.

 Kata אַל־ (al) artinya “janganlah” dalam perikop ini di ulang sebanyak 4 kali. Kata “janganlah” di dalam ayat ini pada bahasa ibraninya adalah “al” yang merupakan kata depan dari תִּשְׁכָּ֑ח (tiskah). Kata תִּשְׁכָּ֑ח (tiskah) merupakan kata kerja qal imperfect dengan kata ganti orang kedua maskulin tunggal yang berarti “kamu akan melupakan”, kata תִּשְׁכָּ֑ח (tiskah) sendiri berasal dari akar kata שָׁכַח “syakach” yang artinya “melupakan”.  Kata אַל־ “al” selain sebagai kata depan juga merupakan kata keterangan negasi atau negation.[4] Jadi תִּשְׁכָּ֑ח (tiskah) artinya “kamu akan melupakan” tetapi karena kata depannya adalah אַל־ “al” maka secara langsung penulis kitab ini mengatakan “jangan sampai melupakan” atau “jangan dilupakan”. Kata תִּשְׁכָּ֑ח (tiskah) menunjukan bahwa melupakan sesuatu atau suatu perintah adalah normal tetapi kata אַל־ “al” menunjukan bahwa perintah atau hukum ini jangan sampai dilupakan.

Sedangkan kata “ajaranku” disini berasal dari kata תֹּורָתִ֣י “torawti” merupakan kata benda feminim tunggal dengan kata ganti orang pertama tunggal yang berarti “tauratku”. Taurat adalah hukum yang bersifat instruksi, penunjuk arah.

וּ֝מִצְוֹתַ֗י “umitswotay” terdiri dari kata penghubung וּ֝ “wu” artinya “tetapi” atau “dan” dengan מִצְוֹתַ֗י “mitswotay” yang merupakan kata benda feminim jamak dengan kata ganti orang pertama tunggal yang artinya “firman-firmanku”. Kata “mitswotay” berasal

Berlanggananlah untuk mendapatkan akses

Baca konten ini selengkapnya saat Anda berlangganan hari ini.

dari akar kata מִצְוָה “mitswah” yang berarti “firman” dengan kata aslinya adalah “tsavah” yang berarti “perintah”. Ini berarti bahwa “umitswotay” berarti “dan firman-fimanku”.

Kata יִצֹּ֥ר “yitsor” merupakan kata kerja qal imperfect dengan kata ganti orang ketiga maskulin tunggal, dari akar kata נָצַר “natsar” yang artinya “menjaga, mengawal, atau menyaksikan”. Jadi יִצֹּ֥ר “yitsor’ berarti “dia akan menyaksikan” atau “dia akan mengawal”. Dia yang di maksud dalam kata ini adalah “firman”. Ini berarti יִצֹּ֥ר “yitsor” artinya “firman yang akan menyaksikan, mengawal sekaligus menjaga”. Apa yang di jaga?

Kata לִבֶּֽךָ “libbeka” merupakan kata benda maskulin tunggal dengan kata ganti orang kedua tunggal berasal dari akar kata לֵב “leb” yang artinya “manusia batiniah, pikiran, kemauan, hati”. Ini berarti kata לִבֶּֽךָ “libbeka” artinya “manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, hatimu”. Hati dalam kata ini lebih merujuk kepada “perasaan”.

Jadi יִצֹּ֥ר לִבֶּֽךָ “yitsor libbeka” berarti “firman yang akan menyaksikan, mengawal, sekaligus menjaga manusia batiniahmu, pikiranmu, kemauanmu, dan perasaanmu. Dengan kata lain bahwa “firman itu mengawasi kita”.

Dengan ini maka amsal 3:1 menjadi jelas bahwa penulis mengataan atau mengajak kita yang lebih muda dari padanya dengan sebutan “anakku’ agar jangan sampai melupakan taurat atau hukum Tuhan yang adalah instruksi dan penunjuk arah. Taurat dalam kasus ini bukan hanya taurat Musa tetapi semua firman menurut kata וּ֝מִצְוֺתַ֗י “umitswotay”. Ini menunjukan kepada kita bahwa firman akan selalu menjadi pagar dan membuat kita tetap berada di jalan yang benar, tetapi sekaligus sebagai petunjuk bahwa jika kita keluar dari jalur maka itu adalah kemauan kita sendiri, jadi jangan salahkan Tuhan.

            kata תּוֹרָתִ֣י “torawti” yang berarti taurat tidak berarti hanya hukum Musa. Ayat ini adalah nasihat dari ayah yang juga guru meskipun demikian ajaran atau nasihat ini diberikan sebagai firman Tuhan. Penulis sedang menyiratkan bahwa dia sedang memberikan nasihat-nasihat ilahi, seperti Paulus dalam 1 Korintus 14:37. Waulupun kitab Amsal sering memberikan tujuan praktis, sang penulis menganjurkan untuk melakukan kebenaran bukan karena kejujuran adalah kebijaksanaan terbaik.[5]

KJV

3:2 For length of days, and long life, and peace, shall they add to thee.

3:2 כִּ֤י אֹ֣רֶךְ יָ֭מִים וּשְׁנֹ֣ות חַיִּ֑ים וְ֝שָׁלֹ֗ום יֹוסִ֥יפוּ לָֽךְ׃

Alkitab Bahasa Indonesia

3:2 karena panjang umurdan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.

Terjemahan Penulis

3:2 karena hari-hari panjang dan tahun-tahun kehidupan dan kelengkapan, kesehatan, kesejahteraan, dan kedamaian mereka akan menambahkan kepadamu.

            Frasa כִּ֤י אֹ֣רֶךְ “ki orek”. kata כִּ֤י “ki” adalah kata penghubung artinya “karena” atau “untuk” sedangkan אֹ֣רֶךְ “orek” merupakan kata benda maskulin tunggal dengan kata ganti genevital[6] yang artinya “panjang”. Jadi כִּ֤י אֹ֣רֶךְ “ki orek” artinya “karena panjang”.

            Kata יָ֭מִים “yamim” merupakan kata benda maskulin jamak dari akar kata יוֹם “yom” artinya “hari’. Tetapi karena יָ֭מִים “yamim” adalah kata benda maskulin jamak maka artinya menjadi “hari-hari”.

            Kata וּשְׁנ֣וֹת “usenowt”, kata וּ “we” adalah kata penghubung yang artinya “dan, tetapi, selanjutnya” dengan kata שְׁנ֣וֹת “senowt” yang merupakan kata benda feminim jamak dari akar kata שָׁנֶה “shaneh” yang artinya “tahun”, tetapi karena שְׁנ֣וֹת “senowt” merupakan kata benda feminim jamak maka artinya menjadi “tahun-tahun”. Maka arti וּשְׁנ֣וֹת “usenowt” adalah “dan tahun-tahun”

            Kata חַיִּ֑ים “khayyim” merupakan kata benda maskulin jamak dari akar kata חַי “khay” yang artinya “hidup”. Karena חַיִּ֑ים “khayyim” adalah kata benda maskulin jamak maka artinya menjadi “kehidupan”.

Dari sini dapat dilihat bahwa frasa “karena panjang umur dan lanjut usia” tidaklah terdapat di dalam teks asli tetapi juga tidak dapat dikatakan salah karena kata אֹ֣רֶךְ “orek” yang artinya “panjang” adalah panjang dalam arti hitungan yang bisa berarti angka, sedangkan frasa berikutnya adalah יָ֭מִים וּשְׁנֹ֣ות חַיִּ֑ים “yamim usenowt khayyim” yang artinya adalah “hari-hari dan tahun-tahun kehidupan”. Ini jelas berbicara mengenai umur panjang.

Kata וְ֝שָׁל֗וֹם “weshalom”. kata וְ֝ “we” artinya “dan” sedangkan שָׁל֗וֹם “shalom” adalah kata benda maskulin tunggal artinya “kelengkapan, kesehatan, kesejahteraan, dan kedamaian”.

Kata יוֹסִ֥יפוּ “yosipu” adalah kata kerja hifil imperfect dengan kata ganti orang ketiga jamak dari akar kata יָסַף “yasaf” artinya “menambahkan”. Karena יוֹסִ֥יפוּ “yosipu’ mengandung hifil imperfect dengan kata ganti orang ketiga jamak maka artinya adalah “mereka akan menambahkan”. Hifil sindiri adalah grammar yang menyatakan suatu sebab akibat.[7]

Kata לָֽךְ “lak” merupakan kata depan dengan kata ganti feminim orang kedua tunggal “padamu” atau “kepadamu”.

Dengan demikian frasa וְ֝שָׁלֹ֗ום יֹוסִ֥יפוּ לָֽךְ “weshalom yosipu lak” artinya “kelengkapan, kesehatan, kesejahteraan, dan kedamaian mereka akan menambahkan kepadamu”

Di dalam ayat 1 dan 2 terdapat beberapa ketetapan Allah yang di kemukakan.[8]

  1. Kita harus menjadikan firman Allah sebagai peraturan teguh yang mengatur segala segi kehidupan dan yang selalu akan kita taati.
  2. Kita harus mendalaminya, sebab tidak mungkin kita dikatakan melupakan hal yang tidak kita ketahui.
  3. Kita harus mengingatnya supaya kita selalu siap untuk menggunakannya ketika kesemptan itu datang.
  4. Kita menaruh kehendak dan perasaan kita di bawah firman-firman itu dan menyelaraskan segala sesuatu dengannya baik pikiran, perasaan, maupun tindakan kita.

            Ayat 2 secara khusus mendorong supaya kita supaya menundukan diri di bawah batasan-batasan dan aturan dari pada firman, bahwa berlaku seperti itu merupakan jalan untuk memperoleh umur panjang berserta kelengkapan, kesehatan, kesejahteraan, dan kedamaian.

            Ada janji jika kita tidak melupakan atau dengan sengaja melupakan firman dan jika kita menjadikan firman untuk menjaga, mengawal, dan menyaksikan manusia batiniah, pikiran, kemauan, dan hati kita, maka firman Tuhan akan menuntun kita di jalan yang benar dan oleh karena itu kita akan mendapat hari-hari panjang dan tahun-tahun kehidupan dengan segala kelengkapan, kesehatan, kesejahteraan, dan kedamaian. Jadi janji umur panjang serta sejahtera adalah bonus karena kita membiarkan firman menuntun hidup kita itu bukanlah upah. Upah dalam arti karena kita hidup sesuai firman, maka kita akan mendapat hari-hari panjang dan tahun-tahun kehidupan dengan segala kelengkapan, kesehatan, kesejahteraan, dan kedamaian, tetapi hidup sesuai firman membuat kita semakin dekat dengan Tuhan itulah hikmat yang sebenarnya maka dengan dekat kepada Tuhan kita juga akan memperoleh hari-hari panjang dan tahun-tahun kehidupan dengan segala kelengkapan, kesehatan, kesejahteraan, dan kedamaian sebagai bonus.

Kata יוֹסִ֥יפוּ “yosipu” adalah kata kerja hifil aktif bentuk pasifnya adalah hofal jadi artinya bukanlah “ditambahkan” tetapi “menambahkan” dan karena יוֹסִ֥יפוּ “yosipu” merupakan imperfek dengan kata ganti orang ketiga jamak dari akar kata יָסַף “yasaf”. Jadi arti יוֹסִ֥יפוּ “yosipu” adalah “mereka akan menambahkan”. Mereka yang di maksud adalah semua firman atau hukum Tuhan. Firman sebagai pengawas jika diikuti maka masalah dan stress kita juga berkurang itulah yang membuat kita berumur panjang dan sejahtera.

Maka dengan jelas ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa hikmat yang dibicarakan di dalam pasal ini adalah tentang hubungan pribadi kita dengan Tuhan.[9]

Ayat 2 dari Amsal 3 ini memiliki janji hari-hari panjang dan tahun-tahun kehidupan dan kelengkapan, kesehatan, kesejahteraan, dan kedamaian mereka dinambahkan kepada kita hanya jika kita melakukan apa yang tertulis atau yang diperintahkan di ayat 1 yakni tidak melupakan taurat atau hukum TUHAN dan mejadikan firman TUHAN sebagai pengawas pada manusia batiniah kita, kemauan kita, pikiran kita dan hati kita. Tentu ini bukan persyaratan yang mudah tetapi hanya dengan memenuhi persyaratan inilah kita berhak mendapatkan janji sesuai dengan ayat 2.

https://youtu.be/8JN8eCbTSKE


[1] Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF, 2007)46.

[2] W.R.F, Browning, A Dictionary of The Bible, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008)

[3] Matthew Henry commentary ()

[4] Negasi atau negastion menurut KBBI adalah penyangkalan atau peniadaan dalam istilah linguistik negasi adalah istilah untuk kata sangkalan. Ada 4 kata sangkalan dalam bahasa indonesia yaitu tidak, bukan, belum, dan jangan.

[5] Wycliffe jilid I

[6] Kata ganti genitival merupakan salah satu kata ganti dalam grammar bahasa inggris dalam kasus “kepunyaan” atau “menyatakan hak milik dari seseorang” contoh “the teacher’s book”. https://www.jagoanbahasainggris.com/

[7] T.G.R Boeker, M.th, Bahasa Ibrani Jilid II (Batu: Department Multimedia bag. Literatur YPPII)51

[8] Matthew jjhenry commentary

[9] Santapan harian

Leave a comment